20.4.12

Mari Hargai Museum!

Kebetulan saat ini saya sedang mengerjakan penelitian kualitatif yang berhubungan dengan museum. Berangkat dari hasil hobi saya pergi ke museum yang disertai pengamatan bagaimana isi dari museum tersebut perlahan-lahan semakin rusak dan berkurang, saya mencoba mengangkat tema mengenai museum ini. Memang tema ini tidak semenarik dan sekeren yang dibuat teman-teman sekelas saya, tapi paling tidak saya menyukai apa yang saya teliti.

Bagi sebagian orang, mungkin museum hanya tempat menyimpan benda-benda bersejarah. Selesai. Kemudian untuk sebagian orang lainnya, museum merupakan tempat yang seru untuk berfoto-foto, kemudian diupload ke facebook. Selesai. Mungkin untuk sebagian orang lainnya, museum merupakan sebuah tempat umum, dimana didalamnya kita bisa bersantai-santai, mengobrol dengan teman, keluarga atau bahkan kekasih. Dan saya berharap, semoga masih banyak orang yang menganggap museum merupakan sesuatu yang harus dijaga, dilestarikan, dipelajari dan dihormati.

Demi menambah data untuk penelitian saya, akhirnya pada pergi ke daerah Kota Tua, Jakarta Barat untuk melakukan observasi kelakuan pengunjung museum. Saya memilih untuk pergi pada hari Sabtu karena itu termasuk salah satu hari libur, dimana banyak orang yang pergi berwisata kesana. museum pertama yang saya datangi adalah Museum Sejarah Jakarta, atau Museum Fatahillah. Didalam museum sudah ramai sekali, mungkin karena kebetulan saat saya datang sedang ada anak-anak SD yang karyawisata. Di beberapa tempat sudah dipasang larangan untuk dilarang memotret, tapi tetap saja banyak yang memotret. Kemudian juga larangan untuk membawa makanan sudah jelas tertempel di dinding, tapi tetap saja masih banyak yang masuk sambil membawa makanan.

Kondisi barang koleksi juga sepertinya sudah semakin memburuk dari terakhir kali saya pergi kesana, sekitar akhir tahun 2011 lalu. Pengunjung yang datang pun kalau tidak berfoto-foto ya duduk-duduk di lantai museum atau sekedar memandang keluar jendela lantai dua museum. Tidak sedikit pula yang iseng menyentuh benda pameran, padahal sudah ada larangan untuk menyentuh. Saya sempat mengobrol sedikit dengan petugas museum di depan pintunya, menanyakan bagaimana tanggapannya terhadap sikap pengunjung yang suka menyentuh koleksi hingga terkadang ada yang rusak. Jawaban yang saya dapat hanya "mau bagaimana lagi, itu ngga bisa dihindari. paling ditegur doang, tapi mau diapain lagi.". Kemudian juga saya melihat ada yang membawa makanan masuk kedalam museum dan sempat melintas di depan petugas. Saya tanyakan, kalau ada yang seperti itu ditegur atau tidak, dan lagi-lagi hanya dijawab "sudah berkali-kali ditegur, tapi tetep aja ada yang bawa. capek juga, jadi dicuekin aja."

Kecewa? Ya, sejujurnya saya kecewa dengan sistem yang tidak tegas ini. Peraturan sudah ada, tapi perangkat lainnya, yaitu petugas yang bertanggungjawab malah meloloskan orang-orang yang melanggar peraturan tersebut. 

Kemudian selanjutnya saya pergi ke Museum Bank Indonesia yang masih terletak di kawasan Kota Tua. Berbeda dengan Museum Fatahillah yang diurus oleh Pemerintah, Museum BI diurus oleh BUMN, yaitu Bank Indonesia sendiri, kira-kira begitu lah info yang saya dapatkan dari salah satu petugas yang saat itu saya ajak mengobrol. Museum ini memang bisa dibilang sangat canggih jika dibandingkan dengan museum lainnya. Bermain koin dengan sensor, LCD dimana-mana, perangkat touch screen untuk memberikan informasi kepada pengunjung dan ruang pamer yang terkesan sangat modern dan ber-AC. Masuknya pun gratis, hanya perlu mengisi buku tamu dan menitipkan tas.

Tapi lagi-lagi saya sedih melihat kondisi museum ini. Secara keseluruhan masih sangat bagus, hanya saja banyak LCD dan perangkat touch screen yang sudah rusak. Selain itu, rak geser yang digunakan untuk menyimpan uang dari berbagai negara juga mulai susah ditarik, atau bahkan tidak bisa ditutup. Untuk urusan pengunjung berfoto-foto tentu saja tetap banyak, karena dimuseum ini diperbolehkan untuk memotret, walaupun ada beberapa ruangan yang tidak diperbolehkan memotret dengan lampu blitz. Tapi tetap saja banyak yang melanggar. 

Setelah mengobrol dengan salah satu petugasnya, saya diceritakan bahwa tidak sedikit pengunjung yang suka menyentuh barang koleksi, termasuk LCD yang seharusnya tidak perlu disentuh. Bahkan untuk contoh yang paling ekstrim, dia menyebutkan bahwa pernah ada pengunjung yang mencolok-colok LCD dengan menggunakan pulpen. Tentu saja saat ketahuan langsung ditegur, tapi bagaimana saat sudah kepalang rusak? Mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa. Dalam pembangunannya Museum BI mencontoh dari museum-museum yang ada di Singapura, canggih dan modern. Tapi sayangnya, mereka lupa memperhitungkan kondisi masyarakat Indonesia yang tentunya tidak bisa disamakan dengan masyarakat Singapura yang jauh lebih tertib dan taat peraturan. Di Singapura, ketika masuk ke museum pengunjung akan sekedar melihat, membaca, tanpa menyentuh. Tapi di Indonesia, dilihat, terkadang tidak dibaca, kemudian disentuh. Hal inilah yang ternyata tidak diperkirakan untuk terjadi.

Wow, ternyata membangun museum pun sebenarnya diperlukan sosiolog lho untuk mempelajari perilaku masyarakatnya.

Oke, dari hasil observasi saya diatas, saya bukannya mau membandingkan kedua museum tersebut. Yang ingin saya bicarakan disini adalah betapa masyarakat kita masih kurang menghargai sejarah. Memang museum adalah public sphere, dimana kita bisa bersantai-santai dengan kerabat, tapi tolong hargai juga isi dari museum tersebut yang sangat berharga dan memiliki nilai sejarah yang tinggi. Dan tulisan ini merupakan hasil subjektivitas saya terhadap apa yang saya lihat dan saya dengar.