23.7.12

Between Dream and Reality


Senin pagi di minggu terakhir bulan Juli ini saya terbangun karena mimpi yang bagi saya sangat random.

And i always hate this kind of feelings.

Tahu tidak perasaan disaat kalian tidak memikirkan seseorang tapi mendadak dia muncul di mimpi kalian? Nah, itu. Saya benci perasaan itu. Mimpi yang seperti itu membuat orang itu terus-terusan bertengger diotak saya untuk beberapa hari ke depan. 

Menyenangkan? Bagi saya sangat tidak menyenangkan. Saya sudah susah payah untuk tidak mengingat orang itu lagi selama setahun terakhir, tapi usaha saya itu selalu dihancurkan oleh sebuah mimpi yang random, yang saya sendiri juga tidak tahu apa maksudnya.

Sungguh, itu sangat menyebalkan.

Tahu tidak perasaan disaat kalian sepertinya tertarik sama seseorang, tapi sebenarnya kalian tidak saling kenal? Ya, saya lebih benci perasaan itu. Tertarik dengan seseorang, mungkin hingga tahap menjadi secret admirer-nya, tapi orang itu bahkan tidak tahu kalau kalian eksis di dunia ini. 

Bagi logika saya, ini sedikit aneh. Bagaimana bisa kita tertarik dengan seseorang sementara kita tidak mengenal dia? Apalagi kalau ketertarikan kita itu bukan berdasarkan fisik, tapi... entah lah. Secara fisik mungkin dia tidak seperti Paul McCartney, Sungmin atau Nicholas Saputra, tapi ada saja yang membuatnya menarik bagi saya. Saya juga tidak tahu apa yang membuat orang itu menarik karena saya tidak mengenalnya secara personal. 

Tapi dibanding semua itu, yang lebih menyebalkan lagi adalah ketika kita tahu bahwa ketertarikan itu akan selalu menjadi sepihak saja.