28.1.13

Negeri Diatas Awan

Waktu saya berlibur di Jember kemarin, Om saya mendadak bertanya "Lulut, do you want to watch action movie?"

Jelas saya menggeleng. Saya bukan penggemar film yang penuh dengan tembak-tembakan, pukul-pukulan atau bunuh-bunuhan. Bukannya takut darah, tapi saya suka ketakutan sendiri kalo ngeliat orang ditembak, dipukul atau diapain lah yang dapat mengakibatkan rasa sakit.

Kemudian dia bertanya lagi, "so, what do you want to watch?"

Saya menjawab, "as long as it isn't action, thriller, slasher...."

"Oh then you should watch Pinocchio. It suit your mental age very well."

Saat itu saya dan Tante saya cuma tertawa karena kami berdua sama-sama penggemar kartun klasik dari Disney. Pada akhirnya kami bertiga memutuskan untuk menonton The Legend Of 1900 dan Gone With the Wind. Yah, siapa sih yang ngga tau Gone With the Wind? Kalo kata Om saya, "one of the best movie in this century."

Tapi bukan Gone With the Wind yang mau saya bahas.

Kemudian saat pulang ke Jakarta kemarin, saya kebetulan mendapat tempat duduk persis disamping jendela, sehingga bisa melihat pemandangan diluar. Tapi yaaa... namanya juga diatas langit, jadi yang bisa dilihat cuma langit dan awan. Justru itu yang sangat saya suka tiap kali naik pesawat. Melihat gumpalan awan yang terbentuk seperti pulau-pulau besar yang mengambang di langit. Mungkin banyak orang yang mengatakan awan seperti kapas. Memang sih seperti kapas, tapi menurut saya itu lebih seperti pulau.

Pulau, lalu ada bukit-bukitnya dan gunung. Kebetulan saat itu cukup cerah, jadi langit kelihatan sangat biru. Saya senyum-senyum sendiri melihat pemandangan diluar sambil berpikir, dimana ya tempat tinggal Zeus? Mana Hera? Apa Hermes lagi mengantar pesan? Mungkin ngga ya mendadak ada Apollo melintas? Atau ada baby pegasus yang baru dibuat dari gumpalan awan kecil yang dibentuk sedemikian rupa? Saat melintasi awan yang cukup menjulang, saya berpikir apakah ini gunung olympus tempat tinggal Zeus? Jangan-jangan sedang ada pesta para Dewa?

Mungkin orang disebelah saya mengira saya gila kali ya karena senyum-senyum sendiri. Masih untung saya ngga dilempar keluar jendela. Hahaha.

Saya jadi berpikir lagi, mungkin apa yang dibilang oleh Om saya itu benar, mental age saya masih belum sesuai dengan umur badan saya. Kenapa saya bisa berpikir dimana Zeus dan teman-teman Dewa-nya? Mungkin saya kebanyakan nonton Hercules dari Disney. Atau mungkin kebanyakan membaca soal mitos-mitos itu. Entah lah.

Saya sendiri tahun ini berusia 21 tahun, usia dimana kita sudah bisa dianggap cukup dewasa. Tapi entah kenapa saya selalu merasa saya ini masih kecil. Saya masih belum pantas untuk begini begitu. Begini begitu maksudnya adalah misalnya punya pacar,  nanti kalo udah lulus mau ngapain, mau kerja dimana, mau jadi PNS apa ngga, memikirkan mau nikah umur berapa dan sebagainya. Apa faktor ukuran badan juga mempengaruhi ya? Yah, seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, badan saya ini termasuk kecil. Saya sering dikira anak SMA, atau yang lebih parah pernah dikira anak SMP. Seneng sih jadinya keliatan awet muda, tapi jadinya saya malah sering diperlakukan seperti anak kecil. Bahkan oleh si.... yang ngga mau saya bahas lagi.

Waktu saya berulang tahun ke 20 tahun lalu, sudah mulai banyak saudara yang mendoakan agar cepat mendapatkan jodoh yang baik. Entah kenapa ya, itu malah membuat saya merasa "ya ampun... baru umur segini udah mikirin jodoh? santai aja kaliiii." Makanya ketika diberitahu kalau salah seorang teman SD akan menikah di bulan Februari nanti, saya lumayan kaget. Bukan kaget karena dia mau menikah, tapi kaget karena menyadari bahwa teman saya sudah mau menikah, sementara saya masih tidak peduli dengan masalah itu. Saya masih tidak peduli kalau tahun ini, saya akan resmi 21 tahun menjomblo.

Belum lagi ada beberapa teman yang sudah lulus dan ada juga yang beberapa keinginannya sejak lama tercapai. Sementara saya? Apa yang mau saya raih aja saya masih belum tahu. Apa yang jadi keinginan saya aja saya masih belum tahu. Saya masih belum merasa pantas melakukan hal-hal yang seharusnya sudah bisa, atau bahkan biasa dilakukan atau dipikirkan oleh orang-orang seumuran saya. 

Semuanya membuat saya berpikir lagi, bolehkah mental age saya tetap seperti anak 5 tahun, dimana saya ngga perlu mempedulikan apa yang terjadi disekeliling saya?

bayangkan kalau ada kerajaan Dewa diatas awan ini :)



apa tulisan sih ini? judul sama isi ngga nyambung. =____=

2 comments:

  1. kerasa sentimentil nih postingan kali ini #ehem

    ReplyDelete
  2. abis gue mainnya sama raja galau *tunjuk randi* jadinya sentimentil. hahahaha.

    ReplyDelete